RSS

*Akuma from the Hell*. . .~(( Bad Boy si Akuma ))~ Chapter 2!!

24 Jun

~**Bad Boy si Akuma**~

Chapter 2 (>.<)
*Inikah Istri Sialanku*

*3 hari kemudian di rumah keluarga Yoichi*
Ting Tong. . .
"Ah Mamo-chan sayank kau sudah datang?" sambut Ibu Hiruma senang sambil memeluk gadis manis di depannya.
"Baru seminggu tapi Mamo dah kangen Mama,," gadis itu memeluk erat Ibu Hiruma dan mencium pipinya.
"Ehem, hanya Mama ni terus Papa bagaimana?" Ayah Hiruma muncul di belakang istrinya.
"Ah Mamo juga kangen Papa kok,," gadis itu tertawa senang memeluk ayah Hiruma dan juga mencium pipinya.
"Syukurlah kau baik-baik saja, Mama tadi khawatir melepas Mamo-chan datang sendirian kesini,," Ibu Hiruma menggandeng gadis itu masuk.
"Mamo kan di antar paman Yukimo jadi tidak takut,,"
"Bagus, anak Papa memang harus pemberani,," ayah Hiruma tertawa senang membelai rambut gadis itu.
"Ah terus Hiru-nii nya mana Pa?"
gadis itu celingak celinguk.
"Ehm sebelumnya Mamo-chan masih ingat apa kata Mama kan sayank,,"
"Iya Mamo ingat kok Ma, kalau Hiru-nii itu dingin, galak, bandel, nakal, ogah-ogahan bicaranya, tidak suka diganggu, tidak suka direpotkan, iya kan Ma?" tertawa senang. Ayah dan Ibu Hiruma hanya dapat tersenyum menghadapi celotehan ceria gadis manis itu. Mereka sudah terbiasa.

Gadis itu bernama Mamori Anezaki namun sekarang menjadi Mamori Yoichi sosok gadis manis yang ceria, lugu dan tidak peka. Sejak kecil lebih tepatnya sejak kematian kedua orang tuanya, dia sudah di asuh dan tinggal bersama orang tua Hiruma di Amerika. Mereka sangat menyayangi Mamori selayaknya putri sendiri, juga sebaliknya Mamori juga sangat menyayangi mereka. Berbeda dengan Hiruma, Mamori yang diberitahu tentang perjodohan atau lebih tepatnya tinggal bersama suaminya, dia sama sekali tidak heboh marah-marah seperti Hiruma, justru dia berteriak senang, karena dalam fikirannya berarti tinggal dengan kakak laki-lakinya^o^

Setelah berbincang-bincang sebentar dan memberitahu Hiruma tinggal dimana, Ayah dan Ibu Hiruma memutuskan mengantar Mamori ke apartemen Hiruma. Namun apartemen Hiruma terlihat sepi sepertinya hari Sabtu membuat sang pemilik malas bangun pagi (baca: jam 11.00).

Karena Ayah dan Ibu Hiruma harus segera pergi ke suatu tempat bertemu rekan bisnisnya, terpaksa memberikan kunci pintu apartemen dan meninggalkan Mamori sendirian di apartemen Hiruma. (-^o^- hati" ya. . .)

Mamori yang bingung mau melakukan apa memutuskan pergi ke kamar membangunkan Hiruma.
Tok . . .Tok. . .Tok, ".."
Tok. . .Tok. . .Tok, ".."
"Em? Hiru-nii tidur kok kayak pingsan saja ya?" Mamori berpose berfikir. "Ah jangan-jangan sakit atau ada penjahat yang masuk terus kakak di,,,,. . .Tidak Mamo harus menyelamatkannya!"
1
2
3
BRUAKK. . !! Mamori menendang pintu dan langsung berterik, "HIRU-NII,. . .Kakak tidak apa-apa?" melompat ke atas tempat tidur dimana sosok makhluk yang tertidur tadi terlonjak bangun dengan kebingungang. Ditambah sosok gadis kecil melompat ke atas tempat tidurnya dan terus mengguncang-guncang tubuhnya.Perlu beberapa menit otak tertidur Hiruma untuk bekerja.
"HOY apa-apaan kau BOCAH SIALAN, hentikan, WOI HENTIKAN!! SIAPA KAU BOCAH SIALAN BERANI-BERANINYA MASUK KAMARKU, WOI. . .!!" sembur Hiruma sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman erat Mamori.
"Eh ternyata Hiru-nii sudah sadar ya,," tersenyum tanpa dosa.
"Sadar? Bodoh yang benar bangun bocah sialan, dan kau sudah meng. . .,,"
"Aih syukurlah kakak tidak kenapa-napa" Mamori tertawa senang memeluk Hiruma.
"Woi lepaskan! Siapa kau bocah sialan?" memicingkan mata menatap tajam Mamori di depannya, 'Masak sih mau 'main' denganku, dia kan masih kecil..,, eh? Jangan-jangan dia. . .,,'
"Ah iya Hiru-nii, aku Mamori, aku ini emmph. . .",, Hiruma langsung membekap mulut Mamori dengan tangannya.
"Ti tidak usah! Iya iya aku tahu kau siapa bocah sialan,,. . . Haah sialan,," menghela nafas berat menunduk pasrah.
'Apa benar gadis ini tidak merepotkan' gumam Hiruma dalam hati dan menatap Mamori yang bermuka polos yang berkedip-kedip bingung.
'Ah ma manis dan lucu, eh APA? Tidak-tidak apanya yang lucu, sialan pintu yang terkunci saja bisa ditendangnya gitu. . .' Hiruma membatin tragis menatap pintu, lalu memandang Mamori yang berwajah innocent. Merasa dilihat Mamori tersenyum ceria sedangkan Hiruma langsung memelototi tajam.

*Tsuzuku*

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Juni 2011 in Fanfiction, Part

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: