RSS

*Akuma from the Hell*. . .~(( Bad Boy si Akuma ))~ Chapter 3!!

01 Jul

~**Bad Boy si Akuma**~

Chapter 3 (>.<)
*Bahaya*

Hiruma beranjak ke kamar mandi meninggalkan Mamori yang terduduk diam di atas tempat tidur. Karena capek Mamori membaringkan diri di atas tempat tidur.

10 menit kemudian Hiruma keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk saja yang melingkar di pinggangnya. "Hoy bocah sialan, bangun dari tempat tidurku!" menatap kesal Mamori.
"Terus Mamo nanti tidur dimana Hiru-nii?"
"Lantai!"
"Kan dingin!"
"Ck aku tidak peduli!"
"Ah Hiru-nii~,, boleh ya ya ya???" mengatupkan tangan.
"Tidak!"
"Hiru-nii~,,"
"Tidak!"
"Mamo akan menuruti semua perkataan Hiru-nii dech, ya boleh ya??"
"Hn? Semua?" Hiruma menyipitkan mata.
"Iya semuanya dech,,"
"Lepas bajumu!"
"Eh? Ah iya baik!" Mamori dengan innocent melepas jaketnya lalu melepas kaosnya dan mulai memegang ujung tanktop dan hendak mengangkatnya.
"Hoy hoy STOP, STOP, sudah sudah bocah sialan berhenti, dasar bodoh!" Hiruma justru panik, bahkan terlihat terdapat semburat merah di pipinya. 'Sial, ada apa denganku? Harusnya aku sudah biasa menghadapi tubuh telanjang gadis, desahan erotis, perlakuan menggoda mereka, tapi ke kenapa di dia bahkan belum melepas semuanya tapi membuatku panas dingin begini, menakutkan, ke kenapa ya? Ah mungkin karena anak kecil, ya mungkin karena itu aku tak tega, ya benar begitu!!' Hiruma berusaha menyakinkan dirinya sendiri. Peluh menetes dari keningnya karena gugup.
"Ce cepat pakai lagi kaosmu!"
"Iya baik!" Mamori memakai bajunya lagi-lagi dengan wajah polosnya.
"Ck, hoy bocah sialan, ingat jangan sembarangan mematuhi perintah orang!" Hiruma berbalik dan sibuk mengambil pakaiannya dari lemari dan membawanya ke kamar mandi. Meninggalkan Mamori yang mengangguk-angguk.
"Sialan itu bocah, bikin keringetan aja, bodoh sekali untung aku, bagaimana kalau itu orang lain, kan berbahaya, hah merepotkan saja,," Hiruma menggerutu.

~**~
Mamori tengah duduk bersila di atas karpet menghadap TV, sesekali tertawa melihat adegan lucu yang dilakukan Tom and Jerry. Sedangkan Hiruma tengah duduk di sofa sambil terfokus pada laptopnya, tidak lupa sambil mengunyah permen karet free sugar kesukaannya. Sepertinya tengah mengerjakan tugas kuliahnya atau mungkin hal lainnya. Sesekali dia melirik tajam Mamori yang tengah tertawa keras.

"Hiru-nii, Mamo lapar,," menghampiri Hiruma. Mendengarnya Hiruma hanya cuek dan terus melanjutkan ketikannya.
"Hiru-niii~,, laparrr~,," Mamori merengek menarik-narik ujung lengan Hiruma.
"Lapar ya makan, apa kau masih disuapin bocah sialan?" Hiruma melirik tajam lalu terfokus lagi pada laptopnya. Mamori menggeleng-geleng, "Bukan, tapi di dapur tidak ada makanan Hiru-nii,,"
"Masak saja!"
"Em tidak bisa,,"
"Beli di luar!"
"Em tidak tau jalan,,"
"Kelaparan saja sana bocah sialan!" Hardik kesal Hiruma.
"Tidak mauuu~,,"
"Terserah!"

"Hiru-nii~,,"
"…."
"Hiru-nii~,,"
"…."
"Hi. . ."
"BISA DIAM TIDAK BOCAH SIALAN!!" Hiruma berteriak, Mamori kaget dan dia langsung cemberut menekuk wajahnya beranjak pergi ke dapur. Melihatnya Hiruma sedikit iba. Tapi dia tetap tak bergeming sambil menggelembungkan permen karetnya.

Di dapur, "Ehm ini diapakan ya? Apa langsung digoreng? Ehm mungkin iya, terus sayurannya ini di giniin aja trus. . .AAA,,"

Mendengar teriakan Mamori, Hiruma spontan berlari menuju dapur, "Kenapa berteriak bocah sialan, kau ingin merusak gendang telingaku apa?"
Mamori memandang Hiruma dengan mata berkaca-kaca dan menunjukkan jari mungilnya yang sedikit berdarah.
"Ck bodoh, kau merepotkan saja,,"
"Gomenasai Hiru-nii",, Hiruma menarik tangan Mamori mengelap darahnya dan membawa jari itu ke mulutnya untuk dihisapnya. Setelah itu dia mengambil plester. Ditiup-tiupnya jari Mamori, "Darahnya sudah berhenti, hentikan air mata sialanmu bocah sialan!" ucap Hiruma sambil menempelkan plester di jari Mamori.
"Ha i, a arigatou Hiru-nii,," ucap Mamori pelan sambil sesenggukan.

"Ck pergi sana, jangan berisik dan jangan menggangguku bocah sialan!" Hiruma menyuruh Mamori pergi, sedangkan dia melanjutkan aksi masak memasak Mamori yang gagal. Mamori hanya duduk di meja makan sambil memandang kagum Hiruma yang sedang memulai aksi masaknya yang bisa di bilang mendapat 4 acungan jempol.

Brak, "Makan sampai kau mati kekenyangan bocah sialan!" Hiruma memberikan sepiring penuh nasi goreng beserta lauk dan sayurannya. Mamori yang kelaparan langsung tersenyum cerah, "Domo arigatou Hiru-nii!!" dan langsung melahap makanannya dengan semangat. Melihatnya Hiruma sedikit menyunggingkan senyum langkahnya tapi sejurus kemudian dia tersadar jika tersenyum, 'Sial, ini tidak boleh',, Hiruma beranjak pergi ke ruang tamu dan memakan makanannya sendiri di sana sambil bermain dengan laptotnya lagi, entah kali ini apa yg dikerjakan sampai dia menyeringga setan seperti itu. Kekekekeke. . .

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Juli 2011 in Fanfiction, Part

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: