RSS

*Akuma from the Hell*. . .~(( Bad Boy si Akuma ))~ Chapter 4!!

05 Jul

~**Bad Boy si Akuma**~

Chapter ì4 (>.<)
*Ada Apa DenganKu*

Malam telah menjelang, jam menunjukkan pukul 10 malam.
Hoammm, seorang gadis munggil menguap dan menggeliat di atas sofa. "Ngantuk, hoamm,,"
". . ." Hiruma hanya meliriknya sekilas dari balik bahunya.
"Hiru-nii, Mamo tidur duluan ya,," Mamori beranjak menuju kamar.
". . ."
Tek tek tek, sunyi hanya terdengar suara ketikan Hiruma saja.

Waktu telah menunjukkan tengah malam dan Hiruma memutuskan untuk tidur. Dia menuju kamarnya, dan melihat Mamori tengah tidur pulas di kasur king sizenya dengan posisi yang tak lazim, yaitu kepala dan tangan menggantung ke bawah.
Hiruma hanya melihatnya lalu berbaring di samping Mamori untuk tidur, sejurus kemudian, "Sial aku terganggu!". Dia terbangun melihat sampingnya dan menghela nafas. Diangkatnya tubuh menggantung Mamori dengan pelan dan membenarkan posisi tidurnya dengan hati-hati. Di tariknya selimut sampai di bawah dagu Mamori."Kau menyusahkan saja bocah sialan!"
Lalu beranjak tidur.

Mentari telah terbit, itu pertanda hari telah pagi.
Tap tap tap, brak. . .
Tap tap tap, sreek sreek. . .
Tap tap tap, gerompyang. . .

"Ck sial, berisik sekali!!" Hiruma menggeliat tak nyaman.
Tap tap tap, bruk bruk brak. . .
"Arrg!!" Hiruma terbangun. Melihat sampingnya tapi dia tak melihat Mamori.
"Ini pasti ulahnya, dasar bocah sialan!" Hiruma dengan kesal beranjak dari kamar dan menuju sumber suara. Dia melihat Mamori lari sana, lari sini, angkat sana, angkat sini, seret sana, seret sini.
"WOI, ada apa ini bocah sialan?"
"Ah Hiru-nii sudah bangun ya, Mamo sedang bersih-bersih,," jawabnya semangat.
"Hentikan dan jangan berisik!"
"Ah baik, sebentar lagi selesai kok,,"
Hiruma pergi ke dapur. "Ck bahan makanan habis, merepotkan,," beranjak ke kamar.

10 menit kemudian. . .
"Eh Hiru-nii mau kemana?"
Mamori melihat Hiruma yang berpakaian rapi.
"Belanja!"
"Belanja? Hiru-nii~. . ."
Hiruma melirik Mamori yang berpose kucing kelaparan menurutnya.
"Ck, 5 menit dari sekarang!"
"Eh apa?"
"Cepat, atau aku tinggal!"
"Ah iya baik!" Mamori bergegas menuju kamar.

5 menit lebih 5 detik kemudian. . .
"Okey, ayuk pergi Hiru-nii~. . ."
"Kau terlambat 5 detik bocah sialan!"
"Ah benarkah, jadi tak boleh ikut ya?" Mamori menekuk wajahnya.
". . ."
". . ."
"Ck, hukumannya kau yang bawa belanjaannya!"
"Ah jadi boleh ikut? Asyik. . .Baik Hiru-nii. . ." Mamori kembali bersemangat dan mengikuti langkah panjang Hiruma dari belakang.

Sesampainya di swalayan, Hiruma menggiring Mamori menuju bagaian buah dan sayuran yang lebih dekat.
"Hiru-nii lihat-lihat yang ini kan?"
"Mentah!"
"Kalau ini?"
"Terlalu matang!"
"Ah kalau ini?"
"Asam!"
"Ini-ini?"
"Pahit!"
"Terus ini?"
"Asin!"
"Yang ini?"
"Busuk!"
"Kalau i. . .Emmph"
Yak karena capek mendengar pertanyaan Mamori, Hiruma membekap mulut Mamori dengan tangannya. "Kalau kau tanya terus aku akan menjadikanmu bahan makanan!" deathglare, Mamori langsung menciut dan mengangguk-angguk.

Akhirnya karena takut, sepanjang acara belanja Mamori hanya diam. Harusnya Hiruma senang tidak mendengarkan celotehan Mamori tapi hal ini membuatnya tidak nyaman.
"Kenapa diam?" melirik Mamori.
"Mamo tidak mau dimasak Hiru-nii!" ucapnya manyun.
"Ck bodoh, hei bocah sialan ambilkan kecap di rak ujung sana!"
"Sana ya, baik!" ucapnya lemas dan berjalan pergi.
"Hah, dia benar-benar berfikir aku akan memakannya ya, dasar bodoh!" guman Hiruma sambil memandang Mamori yang menjauh lalu dia melanjutkan memilih belanjaan lainnya.

"Aaa. . ." telingah setan Hiruma yang tajam mendengar teriakan Mamori, dia langsung berlari menuju rak kecap dan melihat Mamori yang digendong bridal style oleh seorang pemuda.
"Ada apa bocah sialan?" mata Hiruma menatap tajam pemuda itu.
"Anu, tadi pas ambil kecap pakai kursi Mamo jatuh tapi untung ditangkap kakak ini, arigatou,," ucap Mamori ramah.
"Doita shimashite,," pemuda itu tersenyum menatap Mamori yang dalam gendongannya.
"Anata no onamae wa desuka?" tersenyum menatap Mamori.
"Mamori, kalau nii-chan siapa?"
"Watashiwa Riyoku san desu,,"
"Onegaishimasu Riyo-nii,," Mamori tersenyum.
"Onegai, hem senyummu manis sekali Mamo-chan,,"
Alhasil mereka tatap-tatapan dengan saling melempar senyuman. Dan Hiruma berada di tengah-tengah dengan aura api hitam yang berkobar-kobar karena kesal di kacangin.
"Ck, CEPAT TURUN BOCAH SIALAN!" bentak Hiruma.
"Ah iya, turunkan Mamo Riyo-nii!" namun pemuda itu bukannya menurunkan malah tersenyum pada Hiruma yang sedang menatap tajam ala setan dengan menggelembungkan permen karet free sugarnya.
"Hey, dia siapamu Mamo-chan, kakakmu?"
"Iya dia Hiru-nii, ka. . ." Sreet,, ". . .Aaa. . ." Mamori kaget karena tiba-tiba tubuh mungilnya terangkat dan berpindah tangan dalam gendongan Hiruma. Tanpa permisi Hiruma membawa Mamori pergi meninggalkan pemuda itu yang terbengong. Hiruma menurunkan dan mendudukkan Mamori pada keranjang troly belanjaannya, lalu dengan cuek mendorong troly tersebut menuju kasir.
"Eh Hiru-nii apa nanti tidak dimarahi?" Mamori menatap Hiruma.
". . ."
"Hiru-nii?"
"Berisik!" Mamori langsung manyun.
'Cih kenapa, apa peduliku, bodoh ngapain aku pakek merebutnya tadi, harusnya aku biarkan saja bocah sialan ini di bawa pulang orang sialan tadi, toh hidupku akan jadi tenang kembali. Sepertinya aku tidak enak badan, mungkin karena beberapa hari ini terlalu semangat, kekekeke!' gerutu Hiruma dalam hati.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Juli 2011 in Fanfiction, Part

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: