RSS

||#((BBSA))*Bad Boy si Akuma*#|| Chapter 6!!

09 Feb

~**Bad Boy si Akuma**~

Chapter 6 >.<
*Ajari Ciuman*

"Nggh, hoamm, sudah pagi ya" Mamori terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Ehm kok ada di kamar, apa Hiru-nii sudah pulang ya tapi dia tidak ada di sini" Mamori memandang sampingnya.
"Hem aromanya harum, ah ini bau makanan" Mamori langsung melompat dari tempat tidur.
"Hiru-nii~..Hiru-nii~.." Mamori berlari sambil berteriak senang menuju dapur. Merasa dipanggil Hiruma yang sedang bergelut dengan masakannya memutar badannya dan brukk, dia terkejut mendapati Mamori memeluknya erat. "Hiru-nii sudah pulang, Mamo senang tidak sendirian lagi" Hiruma hanya diam dan dia merasakan Mamori tengah menangis di pelukannya. "Mamo takut Hiru-nii tidak kembali". Dengan pelan Hiruma menepuk-nepuk kepala Mamori, "Ck bodoh, hoi bocah cengeng hentikan tangisan sialanmu ini, kau membasahi bajuku saja, kekeke" Hiruma tertawa setan."Cepat makan, atau aku buang semua makanan sialan ini"
Mamori langsung melepaskan pelukannya, "Ah jangan! Baik" bergegas memakan makanannya di atas meja dengan semangat. Lalu Hiruma duduk di depannya dan memakan makanannya sendiri.

Disaat mereka tengah sarapan dengan hikmat, "Hiru-nii?"
"Hn"
"Em gimana sih rasanya ciuman itu?",
Brush, "Uhuk-uhuk, sialan apa yang kau tanyakan bocah sialan?" Hiruma menyemburkan makanannya karena kaget.
"Ah Hiru-nii ini minumnya"
"Kenapa kau bertanya hal itu bocah sialan?" mengambil minuman.
"Mau minta ajari Hiru-nii" jawabnya polos. Byur, "Ohok-ohok..A APA?" teriak Hiruma.
"Hiru-nii sakit ya daritadi kok nyembur terus?" tanya Mamori khawatir.
"Bukan tapi mau jadi dukun, sialan" jawabnya asal.
"Eh apa?" Mamori bingung.
"Lupakan, memangnya kenapa kau minta di ajari bocah sialan?"
"Soalnya kemarin waktu di sekolah teman-teman membicarakan soal rasa ciuman pertama mereka, katanya manis, basah terus apa gitu terus katanya harus banyak latihan biar keren katanya" celoteh Mamori sambil meneruskan makan.
"Keren?" Hiruma cengo.
"Hiru-nii ajari Mamo ya?"
"Kenapa harus aku sialan?"
"Em soalnya Mamo ingat, dulu Mama pernah bilang kalau Hiru-nii sering berciuman sama teman-teman perempuannya jadi kan sudah pengalaman"
".." Hiruma membeku menggantung sendoknya di udara.
"Benarkan Hiru-nii"
"..", 'A a apa? Si sial kenapa orang tua itu mengatakannya segala di depan bocah ingusan sialan ini,'
"Hiru-nii?"
".."
"Hiru-nii ajarin ya"
".."
"Hi.."
"Tidak"
"Kenapa?"
"SMP saja kau belum lulus bocah sialan"
"Tapi teman-teman.."
"Jangan ikut-ikutan teman-teman bodoh sialanmu" Meneruskan makan.
Mamori mengerucutkan bibir, "Kalau begitu, Mamo jadi minta di ajarin Sasu-kun aja dech"
"Hn? Siapa dia bocah sialan" Hiruma mengerutkan kening dan menghentikan makan.
"Teman, katanya kalau Mamo ingin belajar dia siap mengajari kok, week" Mamori menjulurkan lidahnya.
PRAK, "Kalau kau lakukan, tak akan kuberi makan bocah sialan" Hiruma menekan gelasnya ke meja dengan tatapan dingin.
"Ha habis Hiru-nii pelit tidak mau mengajari" Mamori merinding.
"Akan aku ajari setelah kau lulus SMP bocah sialan, cepat mandi sana, hari ini ku antar sekolah" perintah Hiruma tanpa menatap Mamori. Mamori menurut dan pergi mandi dengan wajah di tekuk.
"Ck, anak sialan siapa berani-beraninya membodohi bocah sialan yang bodoh, biar ku cekik dia" gerutu Hiruma.

Brum brum, Hiruma tiba di depan gerbang sekolah Mamori.
"Mamo berangkat" cup, seperti biasa mencium pipi Hiruma.
"Tunggu! Bel pulang langsung pulang! Ada masalah tekan no.1, panggilan cepat menghubungiku, hati-hati dengan orang yang baru dikenal, jangan mau disuruh dan diajak yang aneh-aneh, mengerti bocah sialan?" Hiruma memberi nasehat langkanya. Kekeke..
"Iya mengerti" Mamori masih menekuk wajahnya. Hiruma hanya menatap punggung Mamori lalu memacu motornya ke kampus karena dia ada kuliah pagi.

~**~
Di kampus. . .
"Hey Hiruma" sapa Kosuke dari jauh.
"Hn"
"Tumben kau berangkat sangat awal"
"Ada urusan sialan"
"Wanita? Kau bermain semalaman di apartemenmu ya?"
"Tidak"
"Lalu?"
"Mengurus anak sialan"
Brukk, "Aw, a apa katamu?" Kosuke tersandung batu dan melotot.
"Kau kenapa teman sialan?" menatap Kosuke yang tersungkur di tanah.
"Jatuh"
"Dasar bodoh" Hiruma melenggang pergi.
"Hiruma tunggu, apa maksudmu dengan anak?
".."
Tik, Kosuke menjentikkan jari, "Astaga jangan-jangan.. Dia anak dari salah satu wanitamu ya" tuding Kosuke semangat.
"Hah? Ck sialan jangan sembarang bodoh" Bletak menjitak Kosuke.
"Aw, salah ya lalu siapa?"
"Malaikat kecil sialan KU, kekeke"
"Ah? Bukannya itu juga sebutan untuk anak ya?"

~Skip time~
Setelah mata kuliah selesai pukul 2 siang Hiruma buru-buru pulang, meninggalkan Kosuke yang berteriak-teriak di belakangnya.

Sampainya di apartemen. . .
"Ini sudah satu jam lewat jam pulang sekolah, awas saja bocah sialan itu belum pulang" gerutu Hiruma.
Tit tit, CEKLEK, Hiruma melangkah masuk menatap kesekeliling, "Ck dimana bocah sialan itu" melangkah menuju kamar.
CEKLEK, "Bo.." Hiruma menatap tempat tidur dan disana terbaring Mamori yang tertidur pulas. Hiruma mendekati tempat tidur. "Ck tidur rupanya" Hiruma menarik sedikit ujung bibirnya aka tersenyum. Dia menyelimuti Mamori. Lama dia menatapnya lalu tangannya terjulur, ibu jarinya menyentuh pelan bibir Mamori, "Ck permintaan sialanmu membuatku pusing bocah sialan bodoh" gerutu Hiruma lalu dia mendekatkan wajahnya, menekan lembut bibirnya pada bibir Mamori dan sedikit menghisapnya. Hanya sekejap dia langsung menarik wajahnya. "Ck memang berbeda, rasanya lembut dan manis, sialan aku deg-deg an"
Hiruma memegang dadanya buru-buru beranjak pergi ke dapur untuk mengambil minum.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2012 in Fanfiction, Part

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: