RSS

||#Saigo no Teki#|| Chapter 6!! (ENDING)

09 Feb

((S a I g 0 no T e K i))
~**Chapter 6**~ >.o<!!

Dengan wajah merah dan nafas memburu mereka mengakhiri ciuman itu.
Rukia masih mengatur nafasnya, dan Ichigo menggaruk rambutnya dengan gugup, "A anu, ti tidurlah! A aku pulang dulu!"
CUP,,
Ichigo mencium sekilas bibir Rukia. "A aku,,ah ti tidak, oyasumi" sepertinya ada yang ingin dikatakan Ichigo tapi tidak jadi, dia langsung melesat pergi dari rumah Rukia, meninggalkan Rukia yang terbengong.
.
.
.
"I ini pasti mimpi, ka kami berciuman dan ba barusan d dia menciumku la lagi" Rukia dengan gemetar menyentuh bibirnya.
"A aku sepertinya ngantuk" Rukia dengan linglung masuk dan menuju ke kamarnya.

Bruk, dia menjatuhkan diri di tempat tidur. "Astaga astaga astaga,,uuuh kami-sama" Rukia membenamkan wajahnya di bantal. Mengingat hal tadi membuat wajahnya memerah lagi.
"Bagaimana besok kalau ketemu di sekolah,,aih ini memalukan! Apa-apaan aku tadi sampai membalas dan menikmati ci. . .Ahh~ aku malu~,,dasar jeruk bodoh! Kalau begini mana bisa tidur aku" gerutu Rukia sepanjang malam.

~**~
Suasana sekolah masih cukup sepi namun seorang Rukia telah duduk rapi di bangkunya.
"Eh Ru-chan tumben pagi sekali"
"Bukannya memberi salam dulu" sindir Rukia.
"Ah iya, ohayou Ru-chan"
"Ohayou, kau juga tumben berangkat pagi"
"Aku ada latihan pagi ini"
"Oh gitu"
"Kalau begitu aku ke lapangan dulu ya"
"Iya"

*Rukia POV*
Hah sepi. Oh iya Renji itu merupakan anggota tim sepakbola sekolah, begitu juga Ichigo. Eh ngomong-ngomong soal dia, kemana dia? Kenapa belum datang dan ikut latihan??
Ck sial kenapa aku jadi memfikirkannya sih, uhh menyebalkan pipiku memanas lagi.

Tet tet tet. . .
Bel masuk sekolah sudah berbunyi. Renji dan yang lain juga kembali, tapi kepala jeruk tidak terlihat juga batang hidungnya.
Duh terpaksa,,
"Hey Renji, si,, jeruk,,mana?"
"Ah iya benar, tadi juga dia tak muncul di latihan pagi, kemana ya? Tunggu barusan k kau mencarinya?"
"Ah a apa? Ti tidak! Kata siapa"
"Cie kangen ya"
"Mou Renji!" huh menyebalkan pipiku pasti memerah.
"Beberapa hari ini kalian kenapa?"
"T tidak, tidak kenapa-kenapa kok"
"Ayolah cerita, jangan-jangan"
"A apa sih"
menyebalkan apaan sih Renji ini.

*Normal POV*
Rukia sibuk memperhatikan HPnya, 'Aduh SMS enggak ya, ah tidak, ah iya, ah tidak, aduh~'

"PERHATIAN SEMUANYA!"
Seru sang ketua kelas.
"P PENGUMUMAN!!…A anu i itu. . .Pe pengumuman i itu"
"Hoy lama amat" seru Renji.
"Ah i iya go gomen, a anu. . .A anu hikz I ichi Ichi Ichigo meninggal!"
DEG
"APA?" seru semuanya.

'Me meninggal??'
".."
".."
"Ta tadi malam di dia ke kecelakaan"
PRAKK,,
Rukia menjatuhkan HPnya, tangannya gemetar, wajahnya pucat dan dadanya mendadak sesak, tangan kanannya mencengkram kuat dada kirinya. 'Se semalam?'

"HOY KALAU BERCANDA JANGAN KETERLALUAN DONK, KAU BISA DIBUNUH ICHIGO BODOH!" teriak Renji kesal.

"AKU TAK BERCANDA BODOH!" teriak ketua kelas marah dan dapat dilihat matanya merah karena menahan tangis.
Semua yang tadinya kesal mendadak terdiam.

BRUKK,,
"Ru Rukia" Renji panik melìihat Rukia tersungkur di lantai saat hendak berdiri.
Kakinya terasa lemas. 'I ini tidak mungkin, hah ini bercanda i iya ini bercanda, dasar jeruk sialan'
Dengan susah payah Rukia berusaha berdiri dan mulai berjalan keluar kelas, dan sedikit demi sedikit dia mulai berlari.

"Ru Rukia, kau mau kemana?" tanya Renji panik. Karena khawatir dia memutuskan melesat mengejar Rukia.

Rukia berlari tak tentu arah hanya mengikuti kemana kakinya membawanya.
Dan di sinilah dia sekarang. Berdiri di depan sebuah rumah yang telah dipenuhi orang-orang berpakaian hitam, rumah Ichigo.

Rukia jatuh terduduk, kakinya yang gemetar tak mampu menompang tubuhnya lagi.
"T tidak mungkin, i ini tidak mungkin ha, tidak mungkin Ichi..Ichi. . ." Rukia menunduk dan berusaha keras menahan tangisnya.
"Hikz I Ichigo hikz,,me mengapa? ICHIGO!!" Rukia berterik dan menjambak rambutnya sendiri tak peduli orang-orang tengah menatapnya.

~**~

"Ru-chan ayo pulang"
".."
Untuk kesekian kalinya Renji membujuk Rukia untuk pulang namun sama sekali tak diresponnya.
Rukia tetap duduk bersimpuh di samping nisan Ichigo, walaupun orang-orang juga teman-temannya telah pulang.
Tatapan rukia tampak kosong, dia tak mengalihkan pandangannya dari nisan Ichigo.
Renji menatap sedih sahabatnya, "Bicaralah akan kutunggu"
Renji dengan setia menemaninya, dia beranjak agak menjauh dari situ, dan membiarkan Rukia sendirian.

*FLASHBLACK ON*
"Masuklah ini kamarnya"
Rukia dibawa ibu Ichigo ke kamar Ichigo.
Awalnya Rukia ragu namun dilangkahkannya juga kakinya ke dalam kamar.
Rukia tampak terkejut, karena mendapati beberapa foto dirinya terpajang di pigora foto Ichigo. Bahkan ibu Ichigo menunjukkan 7 buah album foto Ichigo yang kesemuanya adalah foto dirinya.
"K kami-sama" Rukia menutup mulut terkejut. Dia heran kapan Ichigo melakukannya. Berbagai ekspresi dan tingkahnya terdapat di album itu.
"Kau tau, dia sangat menyukaimu"
Rukia mengalihkan pandangan menatap ibu Ichigo.
"Dia selalu bercerita penuh semangat tentangmu, tentu saja dengan wajah yang memerah" wanita itu tersenyum. "Bibi sangat senang akhirnya dia memiliki seseorang yang disukainya"
Rukia menunduk, matanya memanas menahan tangisnya. Ingatannya kembali ke waktu malam dimana Ichigo menemuinya untuk yang terakhir kalinya.

"Bibi dapat melihat dia sangat mencintaimu, bahkan dia selalu memfotomu diam-diam. Tak ada seorang pun yang boleh memasuki kamarnya tak tekecuali bibi. Tapi suatu ketika tanpa sengaja bibi mengetahui rahasianya sehingga dia akhirnya bercerita banyak tentangmu"

".." Rukia mengigit bibirnya dengan gemetar.

"Dia sangat dekat dengan bibi. . . Tapi sekarang,,
bibi,, tak akan dapat lagi melihat tawanya,, tingkah lakunya,, memeluknya penuh kasih sayank,, membelai rambutnya,,mengasihinya hikz dan melihatnya,, b bahagia dengan orang yang dicintainya" ibu Ichigo berkata pilu.
Rukia tak dapat membendung lagi air matanya, begitu juga dengan ibu Ichigo.
Rukia terlampau terpukul mengetahui kenyataan ini, apalagi kematian Ichigo bertepatan dengan sepulang dari rumahnya, yang bisa dikatakan Rukia adalah orang terakhir yang melihatnya.

*FLASHBLACK OFF*

Rukia menggenggam liontin berbentuk bunga sakura pemberian Ichigo.
"Ichigo,,maafkan aku" Rukia berkata dengan suara serak. Renji hanya berdiri diam tak jauh dari situ.
"Walau aku tau ini terlambat,,sepanjang hidupmu tak pernah sekalipun aku mengatakan maaf padamu,, mengatakan terima kasih padamu. . .
Dasar bodoh,,kenapa kau tak mengatakan menyukaiku lebih cepat,,k kau tau aku rasa aku juga jatuh cinta padamu…" Rukia tersenyum miris.
"Aku merasa kesal jika melihatmu dengan gadis lain,,
aku merasa kesal jika tak kau hiraukan,,
dan kini hikz aku merasa sedih telah kehilangan dirimu untuk selamanya,,aku, aku bodoh tak menyadari perasanmu lebih cepat,, aku bodoh telah mengacuhkanmu, aku bodoh . . .
Aku merindukanmu Ichigo, aku sangat ingin memelukmu,,hikz aku ingin berada dalam dekapanmu,,aku ingin selalu bersamamu"
Rukia menangis menyentuh nisan Ichigo dengan gemetar,,"Aku gadis terbodoh yang telah menyia-nyiakanmu,,maafkan aku,,aku menyesal tak memahamimu selama ini,,dan kini aku menyesal tak dapat lagi melihatmu,, bertengkar lagi denganmu,, kesal dengan kejailanmu dan aku sangat merindukan semua itu!" Rukia menjatuhkan kepalanya di tanah kuburan Ichigo, dia menangis pilu sambil mencengkram tanah. Renji memandang sendu Rukia, yang entah sudah berapa kali menyalahkan diri.

"Ichi, terimakasih atas cintamu, walau aku tak sempat mengatakan aku juga mencintaimu. Aku berharap di kehidupan selanjutnya kita bisa bersama dan menjalani kehidupan lebih baik dari ini. . .
Sayounara Ichi,,Sayonaro jeruk,,Sayounara"
Rukia tersenyum disela-sela isakannya.

'Sayounara Rukia,,aishiteru'

Rukia tampak terkejut, seolah mendengar samar suara Ichigo.Dia mengedarkan pandangan, dan detik berikutnya Rukia tersenyum, dia berdiri,, "Kurosaki Ichigo,,aishiteru mo" Rukia berjalan mendekat pada Renji.

"Renji ayo pulang" ajak Rukia.
"Ah apa? Ah i iya baik"
"Kenapa?" tanya Rukia melihat tingkah aneh Renji yang mengusap-ngusap belakang lehernya.
"Ah ti tidak ada, a ayo pulang"
Rukia tersenyum, "Tenang saja, dia. . . Sudah pergi"
"Hah??" bingung Renji.
"Sudah ayo, atau kau mau kutinggal disini?" gurau Rukia.
"Ah apa? Tidak, a ayo pulang" panik Renji, Rukia tertawa geli. Renji tersenyum, 'Syukurlah, aku takut tak melihat tawanya lagi,, Ichigo selamat jalan kawan'

"Renji"
"Hn iya"
"Jangan sepertiku, jangan menyia-nyiakan orang yang meyayangimu ya,,karena jika telah kehilangannya seperti ini,,kau baru akan sadar betapa berhaganya orang itu dan akan menyesalinya seumur hidupmu" nasehat Rukia pada Renji, yang sebenarnya lebih ditujukan pada dirinya sendiri.
Renji tersenyum menanggapinya, "Hm kalau begitu kau siap menjodohkan aku dengan Inoe-chan kan" gurau Renji.
"Eh?" Renji mengangguk-angguk, Rukia langsung tertawa.
"Baiklah, aku rasa Inoe-chan harus menyiapkan tabung oksigen agar tak tenggelam menerima gelombang cintamu"
"Hm kau benar" Renji mengangkat jempolnya.
Mereka langsung tertawa bersama-sama.

'Jeruk,,arigatou telah mengajariku pelajaran hidup yang berharga'

~~**O W A R I**~~

*Mianhae, udah puanjang, sangat sangat tidak jelas n mengecewakan,,T.T*

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2012 in Fanfiction, Part

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: