RSS

||#((BBSA))*Bad Boy si Akuma*#|| Chapter 12!!

07 Mei

~**Bad Boy si Akuma**~

Chapter  ì12  >,<
*Akuma lagi Cemburu*

Sudah 3 hari sejak insiden perusuhan itu. Hiruma mengantar Mamori pergi sekolah, sekarang mereka telah sampai di dekat gerbang.”Hiru-nii Mamo berang..”
“Hey ohayou Mamo-chan” teriak seorang remaja laki-laki berseragam SMA. Ya tempat sekolah Mamori dalam satu lingkungan sekolah terdiri dari gedung SMP dan gedung SMA yang berdampingan jadi saat berangkat, istirahat dan pulang bisa bersama-sama.
“Ah ohayou Akaba senpai” balas Mamori.
Hiruma memicingkan mata, “Siapa dia” Mamori mengacuhkannya.
“Hiru-nii Mamo masuk dulu” dengan ceria Mamori berlari menghampiri Akaba yang menunggunya di depan gerbang. Meninggalkan Hiruma tanpa kecupan sayang.
“Ck siapa anak sialan itu, aku bahkan tidak dicium bocah sialan” gerutu Hiruma memegang pipinya. Dari jauh dia melihat Mamori tertawa senang bahkan anak laki-laki itu terlihat mengacak gemas rambut Mamori juga mencubit pipinya.
Nyut..
Muncul perempatan jalan di kening Hiruma.
Laki-laki itu lalu menggandeng Mamori mengajaknya masuk.
Nyut..
Muncul satu lagi perempatan jalan.
JDUAK, Hiruma memukul tembok sampingnya hingga retak, membuat beberapa siswa yang melihatnya bergidik takut apalagi ditambah, “Apa lihat-lihat” deathglare Hiruma. “Huwaa” mereka lari ketakutan.
“Cih sialan awas kalau kau macam-macam, akan kulempar kedalam jurang, kutenggelamkan kedalam lautan, kukubur hidup-hidup dalam tanah, kugantung dan kucincang, kutembek mati kepalamu, kekeke sialan” Setelah puas menyumpah serapah Hiruma memacu motornya pulang.

~**~
Ting Tong
Bel pulang sekolah telah berbunyi.
“Mamo-chan, pulang dulu ya” sapa beberapa temannya.
“Ah iya hati-hati” kata Mamori ramah.
“Hoy bocah sialan”
“Eh Hiru-nii kenapa disini?” tanyanya heran.
“Kenapa apanya, tentu saja menjemputmu bodoh” sungut Hiruma.
“Tapi biasanya kan kalau pulang Mamo naik bus”
“Ck cerewet, cepat naik” menyodorkan helm.
“Baik”
Mamori hendak memakai helm sampai, “Hey Mamo-chan tunggu” teriak anak laki-laki berlari menghampiri Mamori.
“Eh Akaba senpai ada apa?”
“Ini untukmu” memberikan buku.
“Eh ini, benarkah?”
“Tentu, kau suka cerita lucu kan”
“Iya, arigatou senpai” tersenyum manis. Membuat Akaba merona.
“Ah i iya sama-sama” tersenyum malu, “Oh iya ini kakak Mamo-chan ya, konnichiwa nii-san”
“..” Hiruma menatap tajam.
“..”
“..”
Cegluk, “Ah k kalau begitu aku per misi dulu, sampai jumpa n nii-san, sampai besok Mamo-chan” Akaba beranjak pergi dengan sedikit berlari ketakutan, bahkan wajahnya pucat juga berkeringat banyak. “Haish kakaknya menyeramkan, padahal adiknya sangat..Manis” blushing.

“Naik” perintah Hiruma dingin.
“Ah iya”
Brum brum, Hiruma memacu motornya dengan cepat membuat Mamori memeluk erat pinggangnya. Tapi kali ini berbeda, biasanya Hiruma pasti akan menyeringai jail namun dia justru menampakkan wajah dinginnya saja.

Sepanjang hari Hiruma bersikap dingin. Dia hanya diam di atas tempat tidur, bersandar dan seperti biasa memainkan VAIOnya. Sedangkan Mamori tengah bermain dengan ikan-ikannya.
“Hiru-nii kenapa ya, kok daritadi diam saja tidak berteriak dan marah-marah pada Mamo?” guman Mamori.
“Masak sakit?”

Ceklek, Mamori membuka pintu kamar. Hiruma menatap sekilas lalu menyibukkan diri lagi. Mamori menatap bingung.
“Hiru-nii?”
“..”
Mamori berjalan menuju tempat tidur dengan menggendong boneka beruangnya. Dia duduk dengan kaki dilipat kebelakang, menatap Hirima.
Tek tek tek,, sunyi hanya terdengar bunyi jari Hiruma.
“Hiru-nii?”
“..”
“Hiru-nii kenapa?”
“..”
“Apa sakit?” Mamori mengulurkan menyentuh kening Hiruma tapi langsung ditampik Hiruma. Plak, Mamori kaget.
“Sa sakit” memegang tangannya.
“Hi Hiru-nii marah sama Mamo ya?”
“..”
“Hiru-nii marah kenapa?” Mamori mewek.
“..”
“Hiru-nii hikz hikz” menangislah Mamori sambil memeluk erat boneka beruang di tangannya. Hiruma tetap tak bergeming.
Mamori terus menangis dengan tersedu-sedu sampai wajahnya memerah.
“Ck berisik kau menyebalkan bocah sialan” Hiruma membuang muka. Mamori mengigit bibirnya keras menahan tangis sampai terluka.
“Hiru-nii”
“..”
“Hi..”
“CK AKU BILANG DIAM BODOH!” bentak Hiruma.
Mamori ketakutan, “Huwaaa..” membuaatnya semakin keras menangis.
“Ck sial, adik kecil susunya habis, bisa diam tidak?”
“..”
“..”
“Susunya siapa Hiru-nii?” Mamori bingung.
“Terserah yang penting kau berhenti menangis, dasar menyebalkan, bodoh, tidak peka. Kau tau kenapa aku marah, aku kesal padamu, kenapa diam saja ketika laki-laki lain menyentuhmu heh” bentak Hiruma.
“Menyentuh, siapa?” Mamori bingung.
“Laki-laki sialan yang memberimu buku”
“Ah Akaba senpai”
“Ya aku tidak suka dia memegang tanganmu, rambutmu apalagi pipimu, tidak boleh menyentuhmu”
“Oh karena itu, baik besok Mamo akan bilang Mamo tidak boleh disentuh orang” terangnya polos.
“Bagus”
“Memangnya kulit Mamo kenapa ya Hiru-nii?” tanyanya bingung.
“Hah apa? BUKAN BEGITU MAKSUDKU…Arrg kau ini benar-benar bodoh” Hiruma geregetan. “Sudahlah pokoknya tidak boleh” Mamori mengangguk.
“Dan satu lagi tadi pagi kau bahkan tidak memberiku ciuman gara-gara anak sialan itu”
“Ah Mamo lupa”, Cup, Mamori mencium pipinya.
‘Dapat juga akhirnya kekeke’.
Hiruma melihat bibir Mamori terluka, “Kenapa bibirmu?”
“Ah ini mungkin karena Mamo..Emmph”
Hiruma langsung menekan bibirnya pada bibir Mamori, melumatnya lembut terutama pada lukannya, Mamori mengernyit sakit.

“Bagaimana apa masih sakit?”
“Hebat, sudah tidak sakit”
“Tentu saja”, Cup, mencium pipi Mamori.
“Eh Hiru-nii ada apa kog..”
“Karena membentakmu bocah sialan, ini juga” mencium tangan Mamori.
“Oh begitu ya” Mamori mengangguk-angguk.

 

~Tsudzuku~

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Mei 2012 in Fanfiction, Part

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: