RSS

||#((BBSA))*Bad Boy si Akuma*#|| Chapter 9!!

07 Mei

~**Bad Boy si Akuma**~

Chapter ì9  >.<
*Tes Kepekaan*

Tek tek tek, Hiruma tengah menulis sesuatu di VAIOnya, “Ck sepertinya benar bocah sialan itu tidak peka, aku belum pernah melihatnya terlihat malu, blushing karena berdebar-debar atau sejenisnya.” gerutu Hiruma.
“Sebaiknya aku kerjai saja, akan kuajari kau berdebar-debar bocah sialan, kekeke” Hiruma menutup VAIOnya dan menuju ke kamar.

Ceklek, “Bocah sialan kau sedang a. . .Hoy mau mati apa?”, Hiruma berteriak menyambar pinggang Mamori dari belakang sehingga mereka jatuh ke lantai dengan posisi Mamori di atas Hiruma.
“Aduh sakit” Mamori meringis, Hiruma bangun dan memutar badan Mamori berhadapan dengannya, “Eh Hiru-nii”
“Bodoh, kau ingin mati bocah sialan?” Hiruma menatap tajam Mamori, membenarkan rambut Mamori dan memeriksa tangan dan kaki Mamori, “Aww sakit”, sikut Mamori terluka karena mereka jatuh cukup keras ke lantai. Hiruma berlari mengambil kotak obat dan mengobati luka Mamori.

“Jelaskan, kenapa berdiri di bingkai jendela seperti tadi, tidak lihat ini lantai 5 bodoh” Hiruma marah.
“Ah ta tadi kertas gambarku terbang ketika aku membuka jendela kaca” Mamori menunduk takut.
“Ck bodoh, itu bisa kubelikan tapi nyawa tidak bisa kubelikan bodoh”
“Gomen Hiru-nii” Mamori mengangkat dua jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V di atas kepala, dia menunduk dan menggerak-gerakannya sehingga terlihat seperti telinga kelinci. Hiruma yang kesal menjadi ingin tertawa geli jadinya.
Sret, “Eh?” Hiruma menarik Mamori dalam dekapannya. “Jangan lakukan hal berbahaya lagi bocah sialan”
“Eh? Iya Hiru-nii”
“Kalau ingin mati, biar aku saja yang melemparmu ke jendela, kekeke”
“Hiru-nii~” Mamori menarik diri dan mengembungkan pipi. Hiruma mencubit gemas kedua pipi Mamori (^^), “Kau seperti ikan buntal, kekeke”
“Tidak mau, Mamo bukan ikan buntal tapi ikan..”
“Lohan”
“Hiru-nii~..”
“Kekeke” Mamori marah-marah membalas menarik-narik pipi Hiruma dengan garang. “Hoy jangan keras-keras bocah sialan”
“Biar pipi Hiru-nii jadi ikan kembung”
‘Hn tidak ada perubahan yang ganjil’ Hiruma membatin.

Karena kuatnya tenaga Mamori, Hiruma kualahan, Bruk, dia jatuh ke lantai dengan Mamori di atasnya.
“..”
“..”
“Hiru-nii kenapa? Kok bunyinya keras dan cepat?” Mamori menempelkan kepalanya di dada kiri Hiruma.
“A apa? Su sudah, cepat bangun kau bau bocah sialan, kekeke” Hiruma buru-buru bangun dan memaksakan tertawa setannya.
Mamori duduk di depannya memandangnya sebentar lalu sibuk menciumi badannya, “Aih iya bau ni, kalau begitu Mamo mandi deh” pergi ke kamar mandi.
“Eh? Tadi enggak bau kok? Kan cu ma alasan asal” Hiruma cengo.

“Hiru-nii, Mamo bantuin masak makan malam ya”
“Tidak usah”
“Hiru-nii boleh ya?” puppy eyes.
“Ck potong mentimun itu, ingat bukan jarimu bocah sialan”
“Baik mengerti”
Mereka sibuk dengan bahan makanan masing-masing. Hiruma melirik Mamori, ‘Ck aku kerjai saja, kekeke’ menyeringai jail.
Grep, “Eh kenapa Hiru-nii?” Mamori bingung karena tiba-tiba Hiruma memeluk pinggangnya dari belakang. “Tidak apa-apa, hanya mau mengajarimu cara memotong yang benar” Hiruma berbicara di dekat telinga Mamori.
“Eh benarkah, kebetulan daritadi Mamo kesulitan memotongnya”
“Begitu?” Hiruma melepas tangannya lalu turun memegang kedua telapak tangan Mamori dengan gaya lembut dan pelon lalu menangkupkan tangannya.
“Yang benar begini” Hiruma menggerakkan tangan Mamori untuk memotong mentimun. Dia semakin menempel pada Mamori, “Mudah kan?” kata Hiruma lembut dengan meletakkan dagunya pada bahu Mamori.
“Iya hasilnya beraturan, Hiru-nii hebat” kata Mamori semangat sambil memutar kepalanya ke samping tepat di depan wajah Hiruma. Mereka terdiam saling menatap, ‘I imut, sial badanku gemetar’ gerutu Hiruma dalam hati.
“Hiru-nii kau demam?”
“Ah apa? Ah tidak, kenapa?”
“Wajah Hiruni memerah, Hiru-nii juga peluk-peluk Mamo, apa kedinginan? Terus ngomongnya jadi lembut dan mau mengajari Mamo” jelas Mamo sambil berkedip-kedip polos menatap Hiruma yang membeku.
“..”
“..”
“Hiru-nii?” Mamori mengkibas-kibaskan tangannya di depan wajah Hiru-nii.
“Ah iya” Hiruma linglung.
“Hiru-nii? Kapan melanjutkan masak? Itu airnya sampai tumpah” tunjuknya.
“Oh.. apa?” Hiruma kaget lalu buru-buru mematikan kompor. Mamori hanya bengong
“Ck sial, gagal lagi, kenapa malah aku terus yang mati kutu, sial sial sial” membentur benturkan kepala pada pintu kulkas.
“Hi Hiru-nii hari ini aneh sekali” Mamori menatap bingung dengan innocent. Merasa ditatap, Hiruma menolehkan kepalanya, “Ck bisakah kau tidak berwajah seperti itu bocah sialan” nada pasrah.
“Eh? Mamo daridulu sudah begini jadi bagaimana mengubahnya?”
“Ck kau ini” Hiruma mendekati Mamori, meletakkan kedua tangannya pada bahu Mamori. “Hah oke aku kalah” katanya.
“Kalah apanya Hiru..Emmph” Hiruma menempelkan bibirnya pada bibir Mamori dengan lembut lalu melepaskannya. Mamori kaget dia bengong, Hiruma hanya menunduk,’Bodoh apa-apaan aku’
“Rasanya lembut sekali” kata Mamori. “Apa?” Hiruma mendongakkan kepala menatap Mamori. “Akhirnya Mamo tau rasa ciuman tu, arigatou Hiru-nii” ucap Mamori senang, langsung mencium bibir Hiruma dengan lembut. Brukk, “Eh Hiru-nii kenapa, Hiru-nii kenapa tidur, ah dia pingsan, aduh bagaimana ini?” Mamori panik karena Hiruma pingsan di lantai.

~**~
“Eng”
“Ah Hiru-nii sudah sadar, syukurlah” mengusap airmatanya.
“Kenapa aku?”
“Tadi pingsan”
“Ha?”, ‘Ah iya aku ingat, ck sial memalukan bad boy sepertiku pingsan dicium bocah ingusan’
“Hiru-nii baik-baik saja?”
“Hn iya”
“Gomen Mamo tidak memindahkan Hiru-nii, Mamo tidak kuat”
“Hn gak papa” kata Hiruma lemas.

 

~Tsudzuku~

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Mei 2012 in Fanfiction, Part

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: