RSS

MY WORLD,,MY LIVE (One Shoot)

03 Mar

Hay minna-san~ and chingudeul~…

My Yuki

Entah kenapa di waktu luang ingin menulis coretan pendek ni,, ^o^

Langsung saja,,silahkan baca kalau berminat…..

 

MY WORLD,,MY LIVE

(One Shoot)

Ogenki desuka minna-san??…

Aku akan menceritakan duniaku pada kalian ni…… J

Liat tempat ini, banyak bunga cantik tumbuh di tempat ini. Pepohonan pun tumbuh dengan rindangnya. Matahari disini sangat baik hati, tidak terlalu panas karena awan-awan kecil selalu menemani di dekatnya. Jika malam maka bulan yang akan menggantikannya. Bulan disini sangat besar dan indah, bahkan jika bulan sabit muncul dan kau berdiri di atas atap kau akan seolah dapat menaikinya. Kalau siang Matahari di temani  awan-awan kecil maka malam bulan akan ditemani bintang-bintang kecil.

Liatlah dedaunan ini menari sambil bermain music bersama angin. Bahkan rerumputan pun bergoyang menikmati alunan mereka.

“Yume-chan, sedang apa disitu? Ayo pulang”

Ah itu Ibuku,, “Iya Bu, Yume akan kembali”

Baiklah sudah cukup bermainnya, ini sudah sore harus cepat pulang.

Saat kami makan malam tiba-tiba pintu rumah kami terbuka, itu sangat mengejutkan. Di depan pintu muncul tiga bayangan yang menyeramkan kami semua menjerit ketakutan bahkan sampai naik ke lantai atas untuk bersembunyi. Dan sejak saat itu kami sering melihat sosok makhluk asing yang berkeliaran di rumah kami bahkan lebih seringnya pada siang hari.

Aku hanya bermain di dalam kamar, di luar cuaca tiba-tiba berubah menjadi sangat panas pada siang hari. Ini membuat kami malas keluar rumah. Apalagi di tambah munculnya sosok-sosok itu. Kalian tau aku bahkan sangat sering melihat sosok anak laki-laki kecil. Sepertinya 3 orang yang kami lihat itu satu keluarga, mungkin terdiri dari ayah, ibu dan anak mereka. Astaga sejak kapan rumah kami jadi berhantu seperti ini.

“Ibu, aku melihat seorang anak perempuan di kamar itu” aku menedengar suara itu dari luar kamar. Kerena penasaran aku membuka sedikit pintu kamarku dan benar saja di tangga aku melihat seorang wanita dengan anak laki-laki itu menunjuk kea rah kamarku. Aku benar-benar sangat ketakutan. Hantu itu melihatku, bagaimana ini apa aku akan dibunuhnya.

Dimana semua orang? Diamana ibuku? Dimana ayahku? Dimana kakakku? Semuanya tolong aku.

Semua orang menghilang, aku sangat takut kuputuskan saja aku bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Aku menangis dalam diam sangat takut sekali. Aku mendengar langkah kaki yang mulai mendekat. Dan pintu pun perlahan terbuka.

“Tidak ada apa-apa sayang, sudah ayo makan besok kita bersihkan tempat ini”

“Apa hanya tempat ini bu?”

“Tidak, tapi semuanya”

“Benarkah? Asyikkk “

Apa kata wanita itu? Dibersihkan? Apa maksudnya? Apakah kami semua besok akan dibunuhnya? Bagaimana ini apa yang harus kami lakukan?

Aku melihat kamarku yang sangat cantik ini, boneka-bonekaku berjajar rapi di tempat tidur, apakah semua ini akan di buang mereka dan kami akan dibunuhnya. . .

Aku menangis di bawah selimut, tapi pintu kamarku tiba-tiba terbuka. Betapa terkejut dan takutnya aku tapi syukurlah ternyata itu ibuku. Aku langsung berlari dan menghambur memeluknya erat sambil menangis. Saat makan malam pun kami bahkan menunggu sampai hantu-hantu  itu  pergi. Kalian tau ternyata hantu juga makan bersama. Mereka makan dengan waktu yang sama dengan kami, oleh karenanya karena takut kami baru akan makan saat hantu-hantu itu selesai dan pergi.

Ketika makan malam ini aku menceritakan semuanya pada keluargaku. Bahkan kakak perempuanku sangat ketakutan. Kami semua bingung harus bagaimana? Padahal saat kami melihat mereka kami berpura-pura tidak melihatnya tapi mengapa mereka tidak mau hidup berdampingan dengan kami di rumah sebesar ini??

Kata Ayah kita akan malawan mereka kalau tidak bisa maka ayah akan mencari orang yang dapat mengusir hantu-hantu ini. Dan kakak mengusulkan kami harus bersiap-siap menjaga diri apabila hantu-hantu tersebut tiba-tiba muncul dan akan melukai kami.

Kami semua mencari banyak benda untuk melawan mereka. Bahkan kakakku pergi ke gudang untuk mencari sesuatu yang mungkin berguna.

Ini sudah tengah malam, tapi kami semua masih berkumpul di ruang keluarga. Kakak baru kembali dari gudang namun wajahnya terlihat pucat dan dia sangat pendiam.

“Ada apa Rei-chan?” Ibuku duduk di sampingnya. “Apa kau melihat mereka tadi?”

Kakak hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

“Lebih baik kita segera tidur” kata Ayah. Akhirnya kami semua tidur di kamar masing-masing dan tentu saja aku dan kakakku selalu tidur bersama.

~**~

Pagi pun tiba. Kami semua bersiap menghadapi mereka. Aneh memang menghadapi sosok hantu justru di pagi hari, hal itu dikarenakan saat matahari muncul mereka mulai berkeliaran. Saat kami berkumpul di ruang keluarga, tiba-tiba pintu terbuka dan muncullah tiga sosok hantu tersebut bersama seorang sosok lain.

“Kalian, jangan menganggu keluargaku” seru Ayahku.

Tapi mereka seolah tidak peduli malah duduk di sofa di sebrang kami dan sibuk berbicara sendiri tidak mempedulikan kami.

“Keluarga ini adalah pemilik rumah ini sebelumnya” kata sosok perempuan yang bersama mereka sambil menunjukkan sebuah foto keluarga. Saat foto tersebut di letakkan di atas meja kami semua terkejut melihatnya. Apa ini? Itu foto keluarga kami, bagaimana mereka bisa memilikinya?

“Jelaskan bagaimana kalian memiliki ini?” seru Ibuku. Namun lagi-lagi tidak di pedulikan.

Kami semua tampak bingung, hanya kakakkku yang sedari tadi  duduk diam sambil menunduk.

“Ayah, Ibu sudah hentikan” kata kakaku tiba-tiba. “Mereka tidak akan mendengarkan apapun dari kalian bahkan. . . . melihat kalian” lirihnya.

“Apa maksudmu Rei-chan?” tanya Ibuku.

Kakak mengangkat kepalanya dan dia menangis tersedu-sedu sambil menunjukan sebuah kertas Koran.

“Ekh ini rumah kita” kataku saat melihatnya.

“Aku menemukan Koran itu di halaman belakang,, Ayah, Ibu, Yu-chan kita sudah tidak ada” kakakku semakin menangis.

“A apa maksudnya ini?” kata Ibuku sambil terbata.

“Ingatlah waktu itu, malam di musim dingin saat sekelompok orang datang”

“Ya, mereka semua meninggal pada malam itu saat di bantai dengan keji oleh perampok-perampok itu” kata perempuan tersebut mengalihkan perhatian kami.

Dan seketika putaran-putaran kejadian saat itu tergambar jelas bagikan melihat langsung di ruangan kami sekarang. Aku melihat diriku yang menjerit saat melihat orang tuaku berlumuran darah. Selanjutnya kakakku, dengan sisa kekuatannya dia berseru menyuruhku lari namun terlambat. Seorang laki-laki berdiri di depanku dengan kapak berlumuran darah. Aku menjerit melihat diriku di tebas kapak itu. Jerit dan tangis keluar begitu saja dari mulut kami semua.

Itulah saat kami menyadari bukan mereka sosok hantu itu melainkan kami. Tanpa sadar kami hidup dalam bayangan seolah sebagai seorang manusia tanpa tau sebenarnya. Kalian tau ternyata sesuatu yang sangat indah yang kami lihat semuanya palsu. Bahkan kamar kami yang tampak sangat cantik di depan mereka ternyata hanya sebuah kamar kosong tak terurus dengan debu dan barang-barang berantakan dimana-mana.

Perhatikan setiap langkahmu, perhatikan setiap hal yang ada disekitarmu, dengarkan secara seksama apa saja yang tengah kau dengar.  Mungkin saja dunia tengah mempermainkan hidupmu bagai membalik sebuah tangan dalam kekosongan tanpa adanya harapan. ^o^

 

 

~**END**~

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Maret 2013 in Fanfiction, Oneshoot

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: